Penurunan Penjualan Emas Antam Sebesar 25% Dan Penurunan Nikel Sebesar 16%

lagunabeachcanow.com – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam mencatatkan penurunan penjualan tiga produk andalannya, yakni emas sebesar 25%, feronikel disesuaikan sebesar 16%, dan perak sebesar 18% pada tahun 2023 dibandingkan tahun 2022. Penurunan tersebut seiring dengan produksinya yang juga mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara tiga sumber daya Antam lainnya yakni bijih nikel, bauksit, dan alumina mengalami peningkatan penjualan.

“Dalam 12 bulan tahun 2023, Antam mencatatkan produksi dan kinerja yang kuat (tidak diaudit). “Pencapaian ini merupakan bagian dari upaya Antam dalam meningkatkan kinerja perseroan agar dapat memberikan manfaat yang berharga bagi para pemegang saham dan pemegang saham,” kata Manajemen Antam dan laporan laba kuartalan yang dirilis Rabu (31/1/2024).

Dalam laporan keuangan triwulanan, produk emas Antam mengalami penurunan penjualan sebesar 25,27% menjadi 26.129 kg dari tahun lalu 34.967 kg. Produk andalan Antam lainnya, Feronikel, juga meningkat 16,82% dari 24.210 ton menjadi 20.138 ton, dan penjualan perak turun 19,68% dari 11.470 kg menjadi 9.213 kg.

Penurunan penjualan dikaitkan dengan penurunan produksi. Pada tahun 2023, produksi emas Antam turun 4,73% dari 1.268 kg menjadi 1.208 kg dan produksi feronikel turun 11,76% dari 24.334 ton menjadi 21.473 ton, sedangkan produksi perak meningkat dari 8.203 kg menjadi 8,26 kg.

Sementara itu, penjualan bijih nikel, bauksit, dan alumina Antam pada tahun 2023 akan meningkat. Penjualan nikel Antam meningkat dari 7 juta ton pada tahun 2022 menjadi 11,71 juta ton pada tahun 2023, disusul bauksit dari 1,24 juta ton menjadi 1,49 ton, dan alumina dari 143.990 ton menjadi 146.238 ton.

Sementara itu, produksi bijih nikel Antam meningkat menjadi 13,45 juta ton dari 8,62 juta ton pada tahun 2022. Disusul bauksit yang produksinya meningkat menjadi 2,01 juta ton pada tahun 2023 dibandingkan 1,65 juta ton pada tahun lalu, dan alumina yang produksinya meningkat dari 151.565 ton menjadi 160.940 ton.

Manajemen Antam menyebutkan produksi bauksit sebesar 2,01 juta ton pada 2023 untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pabrik alumina dan dijual ke pelanggan lain. Produksi bijih nikel tahun lalu sebesar 13,45 juta ton juga digunakan sebagai bahan baku pabrik feronikel Antam, serta untuk dijual ke pelanggan dalam negeri.

“Antam senantiasa melakukan inovasi untuk meningkatkan nilai tambah produk, serta menerapkan rencana strategis pengelolaan keuangan yang tepat dan efektif,” tulis Antam. Pada tahun 2023, emiten yang tergabung dalam perusahaan pertambangan BUMN MIND ID ini akan melanjutkan riset untuk menjamin keberlangsungan perusahaan. Tujuan eksplorasi adalah untuk meningkatkan ketersediaan cadangan dan sumber daya nikel, emas, dan bauksit. “Total biaya penelitian Antam yang belum dibayar selama setahun penuh 2023 (FY23) tercatat sebesar Rp 278,03 miliar,” kata manajemen Antam.

Proyek eksplorasi emas Antam akan selesai pada 2023 di Pongkor, Jawa Barat, meliputi pengeboran bawah tanah dan pengeboran permukaan. Saat ini eksplorasi nikel perseroan dilakukan di Konawe Utara dan Pomalaa, Sulawesi Tenggara, serta Tanjung Buli, Maluku Utara. Di wilayah Konawe Utara, kegiatan yang dilakukan meliputi pemetaan geologi, coring, logging, gridding dan survei, serta penempatan patok dan pengeboran single tube. Sedangkan eksplorasi bauksit Antam 2023 akan dilakukan di Tayan, Mempawah dan Landak, Kalimantan Barat.

Di kawasan ini kegiatan penelitian yang dilakukan meliputi pemetaan geologi, pengukuran grid/poligon, pengukuran geodesi GPS, lubang uji, lubang pohon, dan survei batuan. “Pekerjaan eksplorasi dilakukan untuk memastikan infrastruktur dan keamanan akses perusahaan memadai. “Proyek eksplorasi nikel ini bertujuan untuk mendukung operasional yang sedang berjalan dan memulai pengembangan nikel perseroan,” pungkas manajemen Antam.